Ship to ship menjadi salah satu alternatif yang biasanya dilakukan pada pengiriman barang via laut. Pada dasarnya ship to ship merupakan proses pemindahan cargo dari satu kapal ke kapal lain dan biasanya dilakukan di laut terbuka atau di pelabuhan.
Bagaimana cara kerja dan prosedur ship to ship? Pada artikel ini kami sudah merangkum berbagai informasi terkait ship to ship, mulai dari pengertian, prosedur, jenis, manfaat, hingga dokumen yang dibutuhkan pada proses ship to ship.
Tanpa berlama-lama, yuk simak informasi selengkapnya di bawah ini!
Ship to ship (STS) atau jika diartikan menjadi transfer antarkapal adalah proses pengangkutan atau memindahkan cargo dari satu kapal ke kapal lain. Biasanya, operasi ini dilakukan di laut terbuka atau di pelabuhan.
Menurut Ship To Ship Transfer Operation Plan, Ship to ship adalah muatan minyak yang ditransfer pada kapal yang ditambatkan secara bersebelahan. Operasi semacam ini dapat terjadi ketika satu kapal sedang berlabuh di samping atau ketika keduanya sedang berlayar.
Jadi, kegiatan pemindahan muatan terjadi saat kapal berada di laut yang diposisikan secara berdampingan satu sama lain, baik saat keadaan diam atau sedang berjalan.
Tujuan dari operasi STS adalah untuk mempercepat alur logistik dan mengurangi biaya penanganan berlapis atau double handling. Selain itu, operasi STS juga dapat meminimalisir kerusakan akibat penumpukan atau perpindahan berulang.
Operasi STS menangani berbagai jenis cargo, baik itu barang berupa hasil bumi atau barang besar untuk kebutuhan industri. Berikut beberapa kategori barang yang bisa ditangani oleh operasi STS.
Ship to Ship (STS) adalah proses pemindahan muatan dari satu kapal ke kapal lainnya secara langsung. Prosedurnya terdiri dari beberapa tahap:
Baca juga:

Ship to ship dibedakan menjadi dua, yaitu operasi tandem offloading dan operasi double bank transfer. Berikut penjelasannya.
Operasi tandem offloading adalah konfiguasi kapal yang terletak dalam sat ugaris lurus berposisi depan-belakang (haluan kapal yang satu menghadap buritan kapal yang lain). meskipun operasionalnya banyak digunakan karena lebih aman, tetapi jarang digunakan karena memerlukan manuver yang lebih kompleks.
Operasi double-bank transfer adalah posisi kapal yang diletakkan sejajar atau saling bersebelahan satu sama lain (sisi portside kapal yang satu berdekatan dengan sisi starboard kapal yang lain). Operasi ini banyak digunakan dalam ship to ship.
Operasi double-bank transfer dibedakan dalam beberapa jenis, yaitu:
Operasi double-banked adrift dilakukan saat kedua kapal dalam keadaan free float atau hanyut bebas. Operasi ini kebanyakan dilakukan di perairan yang tenang atau ketika traffic pelayaran tidak padat.
Operasi double banked anchor dilakukan saat salah satu kapal berlabuh sementara kapal lainnya mendekat untuk melakukan transfer.
Operasi double banked moored at gasport jetty dilakukan saat salah satu kapal terikat sandar di jetty terminal.
Operasi double banked moored at STL buoy dilakukan saat salah satu kapal terikat pada mooring buoy (umumnya berbentuk Tower York).
Operasi ship to ship memberikan kemudahan dalam proses pemindahan barang. Berikut beberapa manfaat dari proses ship to ship.
STS memungkinkan pemindahan muatan atau bahan bakar dilakukan tanpa kapal harus selalu masuk ke fasilitas pelabuhan. Kapal bahkan dapat melakukan pengisian bahan bakar tanpa memasuki pelabuhan. Hal ini dapat membantu mengurangi waktu tunggu dan membuat penggunaan waktu operasional kapal lebih efisien.
Salah satu manfaat STS adalah fleksibilitas lokasi. Transfer bahan bakar dapat dilakukan di pelabuhan maupun di lokasi tertentu di laut, selama lokasi dan kondisi operasinya memenuhi persyaratan keselamatan.
Karena proses transfer dapat direncanakan sesuai kebutuhan operasional kapal, STS dapat membantu kapal memperoleh bahan bakar atau memindahkan muatan tanpa harus selalu bergantung pada proses sandar di terminal. Ini dapat mendukung kelancaran rangkaian kegiatan pelayaran dan mengurangi waktu operasional yang tidak produktif.
Dalam STS bunkering, pengisian bahan bakar dapat dilakukan bersamaan dengan aktivitas tertentu seperti cargo transfer atau kegiatan naik turun penumpang ketika kapal berada di dermaga.
STS dapat digunakan untuk memindahkan berbagai jenis muatan, seperti minyak bumi, produk petroleum, bahan kimia, LPG, dan LNG. OCIMF menjelaskan bahwa STS merupakan metode yang digunakan baik di laut maupun di pelabuhan dan memiliki prosedur khusus untuk memastikan kegiatan transfer dilakukan secara aman dan efektif.
Dengan adanya pilihan transfer langsung antar kapal, kegiatan pemindahan muatan tidak selalu harus dilakukan melalui fasilitas terminal atau dermaga. Hal ini memberikan alternatif ketika fasilitas darat memiliki keterbatasan tertentu. Namun, STS tetap membutuhkan perencanaan, pemeriksaan kondisi lingkungan, peralatan yang sesuai, dan prosedur keselamatan yang ketat.
Baca juga:
Dalam kegiatan Ship to Ship (STS), terdapat beberapa dokumen yang digunakan untuk mencatat, mengatur, dan menjadi bukti resmi selama proses pemindahan muatan dari satu kapal ke kapal lainnya. Berikut dokumen yang biasanya dibutuhkan dalam proses Ship to Ship.
Demikian informasi mengenai Ship to Ship, mulai dari pengertian, prosedur, jenis-jenis, manfaat, hingga dokumen yang dibutuhkan pada aktivitas ship to ship. Operasi ini memberikan kemudahan dalam proses pemindahan barang dari satu kapal ke kapal lain.
Author :
|
|
|
|
|
|
|
|